random wishes :)
pengen sekolah di itb (amin)
pengen lulus UAN (amin)
pengen belajar taekwondo
pengen diving
pengen bisa renang gaya dada
pengen beli buku TBS sama TPA
pengen ganti senar gitar
pengen bisa belajar bahasa prancis
pengen sembuh dari migrain berkepanjangan
pengen ke stamford bridge
pengen keterima beasiswa itb
pengen ganti lagu di ipod
pengen beli dvd gossip girl season3
pengen bisa nyetir mobil 4WD
pengen beli tshirt metalicca
pengen (di)bikin(in) origami 1000 bangau
PENGEN SURPRISE 17 TAUNAAAN (gapapa deh telat juga hiks pengen banget ini mah)
pengen beli segala sesuatu yang biru
pengen beli jam tangan ben 10 di gramedia
pengen suskes TO 3!
pengen roromantisan (hahaha macam apa ini)
pengen naik dinosaurus
pengen jadi pilot
pengen tas kipling
pengen jadi demonstran
terakhir ..
pengen indomie kuah telor
huauauauaua saya laper. laper in the midnight. midnight hungry. hungry krkrkrkrkr
look at my (and their huahaha) bluey stuffs! zooo cuties rrrawr
**
actually, they aren't mine at all. look at these ipods haha how rich i am that i have those two ipods. the facts are the smaller ipod is mine, the oxford's pocket is hanifu's, and the mickey bag is tara's. huahaha
beberapa hari kemaren, saya sama uli dikejutkan dengan munculnya 3 orang tuyul anak kecil yang sedang akrab bermain DI ATAS WASTAFEL toilet (toilet internasional kebanggaan bangsa) wanita sma tiga bandung rrrraawr! just see this one fellas
bayangkaaan teman teman! betapa terguncangnya kita saat melihat ketiga anak ini tiba tiba nyengcle terjun dari langit kayanya terus maen maenin keran wastafelnyaa hahahaha parah abis.
beginilah nasib anak anak yang kehilangan lahan bermain mereka. hahahaha naoooon
Labels: konyol
capeeeeeeeeeee
hari ini saya menemui sebuah kejadian yang menarik. lebih tepatnya menyedihkan.
sepulang dari ssc, saya nebeng mira, dilanjutkan dengan naik angkot cimahi. sesampainya di suatu daerah, sebut saja namanya bunderan, angkot yang saya tumpangi berhenti karena lampu merahnya nyala. secara ga sengaja , saya menemukan sebuah warung bakso di pinggir jalan. ternyata di dalamnya ada seorang ibu yang berteriak ke arah sebrangnya. saya pikir, dia berteriak ke temannya. lalu saya menoleh ke tempat ibu itu tadi mengarahkan teriakannya. tiba-tiba sebuah mobil meluncur dan berhenti di sebelah angkot yang saya tumpangi, menutupi pandangan saya. oh yasudah saya pikir. tiba tiba saat saya menoleh ke arah warung bakso itu, si ibu itu kini posisinya agak bersembunyi sambil mengarahkan pandangannya ke sebrang. tiba-tiba seorang anak usia 6 tahunan menghampiri angkot cimahi ini. pakaiannya lusuh, tangan kanan dan kirinya masing masing menggenggam sebuah kecrekan dan sebuah gelas air mineral bekas. ia pengamen ternyata. suaranya melantunkan melodi yang sangat tidak bersahabat karena suaranya yang super cempreng. sesekali anak itu menatap ke belakang, ke arah ibu itu! dan saya baru menyadari bahwa suudzon saya, ibu itulah ibu dari anak yang mengamen ini, yang mempekerjakan mereka sebagai pengamen.
beberapa orang di angkot ini mengulurkan belas kasih mereka dengan kepingan koin koin. saya kembali menaruh pandang saya pada tempat si ibu tadi berteriak teriak. syukurlah mobil di sebelah angkot ini meluncur lebih cepat. tetapi miris sekali hati saya ketika saya melihat ternyata ibu itu berteriak ke arah seseorang di seberang. seseorang yang entah siapa, perempuan, sekitar 12 tahunan dan dia menggendong seorang bayi sambil memegangi kecrekan.. belakang saya baru tahu, sepertinya anak perempuan ini korban dari ibu tadi..
saya tidak habis pikir, dimanakah nurani ibu ini sebagai seorang perempuan. tidak adakah belas kasihan sama sekali pada mereka ini?
dan saya baru menyadari, betapa beruntungnya menjadi seorang saya. terima kasih ya Allah. semoga ibu tadi saya saya ketemuin cepet-cepet insyaf.
Labels: elegi, this is my life
Sometimes it’s hard to see the lines we’ve drawn, until we cross them.That’s why we rely on the ones we love to pull us back, and give us something to hold onto. Then there are the clearly marked lines. The ones that if you dare cross you may never find your way back.
Gossip Girl | 3.08 The Grandfather
Labels: beloved, kata orang
courez quand vous en êtes capable, marchez si vous y êtes obligé, trainez-vous si vous le-devez, mais n'abandonnez jamais.
silahkan mencari artinya di google translate
saya terkesan sekali sama orang-orang, atau temen teman di sekeliling saya yang berhasil menjadi seorang individu yang independen. menjadi diri sendiri, menegaskan bahwa dirinya seperti itu, dan lebihnya ia berani keluar dari comfort zone-nya sebagai dirinya. tadi saya sempet baca sebuah artikel dari wikiHow yang judulnya Be An Independent Girl. sebenernya kayanya ga susah sih untuk jadi orang yang independen, cuman yang susahnya itu gimana kita mempertahankan diri untuk tetap menjadi seorang yang independen. dalem artikel itu, hal pertama dan yang paling membutuhkan waktu untuk menjadi seorang yang independen adalah untuk mengenali diri sendiri. jangan coba-coba untuk tidak menjadi diri kita. nah dan yang saya bingung sampe sekarang adalah bahkan saya sendiri aja gatau batas-batas apa aja yang membatasi bahwa itu adalah kondisi saat saya bukan menjadi saya. bingung kan? sama, saya juga hahaha
selanjutnya adalah 'Try to find a hobby or interest that you enjoy and are good at, it builds self esteem and gives you stuff to talk about.' ya kalo soal ini sepertinya i've got it. saya tau mengenai bidang apa yang saya gemari.
'Learn how to accept critics and how to face them, if someone bitches behind your back, ignore it unless it's really serious, people will always dig into people they don't understand or are jealous of, it's natural. Just feel pleased you're mature enough for it not to bother you. If someone directly starts something, meet them head on, now you're an independent person you've got guts enough to have an argument. If someone gets violent however, obviously use your common sense and leave in a calm and collected manner.'
dan ini yang saya rasa paling sulit. saya adalah tipikal orang yang hmmmmm -aduh sungguh sangat sulit mengatakannya- yang sangat gamau dikalahin, ya ambisius. eh ga ambisius juga sih serem amet ya kayanya ambisius. ya ga mau kalah deh. jadi ketika seseorang mengkritik saya sebisa mungkin saya akan mengkritik balik ke dia. cara saya mempertahankan diri dari kritikan orang lain. karena dalam diri saya masih terdoktrin bahwa kritik itu adalah sebuah penilaian bahwa saya salah. toh sebenernya itulah kritik. aduh tapi satu deh pokonya saya paling males ketika ngedenger orang ngritik saya. saya lebih tertarik untuk membiarkan kuping saya dijajal headset saat orang lain mengkritik saya..
jadi, sebenernya satu sih pertanyaan saya. perlukah kita menjadi orang yang independen?
Labels: pemikiran